Saturday, May 16, 2015
Nenekku
pintar memasak dan merajut, ia tinggal di desa yang cukup terpencil. Suatu hari
saat libur sekolah, aku pergi ke desa tempat tinggal nenek. Oh ya, namaku
Shafa. Sesampainya aku di rumah nenek, ia langsung bertanya “Kamu datang kesini
sendiri?”. Aku hanya mengangguk. Kemudian nenek bertanya lagi “Kenapa kamu
datang kesini tidak bersama bundamu?”. Nenek menatapku dan aku hanya
menundukkan kepala. Nenek bertanya lagi “Kenapa kamu kesini tidak bersama
ayahmu?”. Aku masih menundukkan kepalaku.
Nenek
pun mempersilahkan aku duduk dan membuatkanku secangkir teh. Aku langsung duduk
dan meminum teh sajian nenek. Nenek berkata kepadaku “Nenek tahu kamu sedang
ada masalah dengan ayah dan bundamu” Aku yang sedang meminum teh langsung
terdiam dan meletakkan cangkir ke meja. Nenek duduk disampingku dan berkata
“Jelaskan mengapa kamu pergi dari rumahmu?”. Aku memeluk nenek sambil berkata
“Bagaimana nenek bisa tahu?” Nenek melepaskan pelukanku dan menjawab ”Sewaktu
bundamu seusiamu, ia selalu pergi ke rumah neneknya apabila sedang kesal dengan
orangtua. Nenek tahu karena ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Aku
tersenyum dan berkata ”Ayah dan bunda tidak memperhatikanku, mereka lebih
memperhatikan dek Thoriq, mereka selalu mengunggulkannya. Mungkin karena dek
Thoriq pintar dan juara 1 di kelasnya. Aku jadi tidak disayang, nek.” Nenek
hanya tersenyum dan tertawa. ”Bundamu sayang padamu, hampir setiap hari ia
menelpon nenek menanyakan kabar dan untuk bercerita tentang Shafa dan Thoriq.
Bundamu bercerita kamu adalah anak yang rajin dan adekmu adalah anak yang
pintar.”
Aku
menatap nenek sambil berkata ”Ayah dan bunda tidak peduli tiap kali aku ingin
bicara tentang nilaiku, bunda hanya bilang supaya jangan pernah puas dengan
nilaiku, dek Thoriq saja selalu juara kelas tetapi ia tidak pernah berpuas
diri. Sedangkan ayah hanya berkata tingkatkan nilaimu dan jadilah anak yang
pandai. Kamu sudah membanggakan kami, tapi dek Thoriq lebih membanggakan. Jika
kamu mau membanggakan kami melebihi dari adekmu, maka kamu harus rajin belajar.
Mereka lebih bangga pada adek, nek ...”
Nenek
menatapku sambil tertawa ”Hahahaaa..., apakah kamu tahu, mereka terus
membanggakanmu ketika kamu juara 1 lomba membaca Al Quran seKabupaten? Mereka
tak ingin kamu puas begitu saja dan mereka ingin kamu mencontoh adekmu yang
mendapat juara kelas. Mereka tak bermaksud merendahkanmu, hanya ingin membuatmu
menjadi lebih baik.” Aku termenung dan akhirnya tersenyum menyimak kata-kata
nenek.
Nenek
berkata ”Kalau kamu pergi, kamu tidak akan menyelesaikan masalah namun akan
menambah rumit masalah tersebut. Nenek ingin kamu tahu, sebenarnya kamu hampir
saja membuat dirimu celaka karena kamu masih kecil dan nekad pergi sendiri. Nenek
tidak bangga atas perbuatanmu.” Tiba-tiba telepon rumah nenek berdering,
ternyata itu adalah bunda. Nenek mengangkat telepon dan berkata ”Shafa sedang
di rumahku, besok kamu kemari untuk menjemput dia dan sekarang biarlah dia
menginap semalam disini.” Nenek kemudian menutup telepon dan menyuruhku mandi
lalu shalat. Nenek memang orang yang taat beribadah seperti orangtuaku. Setelah
shalat, nenek mengajakku makan dan sebelum tidur ia memberikanku dua buah
selimut hasil rajutannya ”Ini untukmu dan adekmu.” Aku berterimakasih dan
mencium nenek. Sejak saat itu aku belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam
bertindak dan membuat keputusan.
Label:
CERITA PENDEK: nenek
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment